Sabtu, 09 Februari 2013
CERPEN "TANDA TANYA??"
Selasa, 05 Februari 2013
cerpen : INDAH PADA WAKTUNYA
Kamis, 02 Agustus 2012
kisah nyata yang dizaman sekarang
Kisah Nyata:
Ada pelacur bernama Sekulerisme.
Prinsip hidupnya: jangan bawa-bawa agama ke ruang publik.
Dia adalah anak brokenhome dari perselingkuhan kekuasaan negara dan kekuasaan agama.
(* andaikata negara/umara dan agama/ulama ini "nikah" baik-baik, tentu gak begini jadinya *).
Karena itu tak heran Sekulerisme kemudian memiliki lima anak haram.
Anak pertama bernama Liberalisme.
Prinsip hidupnya: biarkan semua bebas bicara, bebas berperilaku, bebas
berkeyakinan/beragama dan bebas dalam memilih cara memiliki sesuatu,
selama tidak mengganggu kebebasan orang lain. Karena itu, Liberalisme
tidak menghalangi orang untuk memeluk agama - apapun agamanya, bahkan
mereka yang membuat agama barupun harus dihormati. Belakangan
Liberalisme juga melahirkan anak haram: yaitu Permisivisme..
Anak kedua bernama Pluralisme.
Prinsip hidupnya: ruang publik jangan didominasi salah satu kelompok /
paham tertentu saja. biarkan semua terlibat. pembangunan akan lebih
cepat kalau energi kesalehan disinergikan dengan energi setan. Karena
itu, Pluralisme memandang, setiap kelompok harus terwakili dan didengar
suaranya dalam membuat kebijakan publik, termasuk kelompok pekerja seks
komersial, kelompok pengedar narkoba, ataupun kelompok keluarga
terpidana korupsi.
Belakangan Pluralisme juga melahirkan anak haram: yaitu Sinkretisme agama.
Anak ketiga bernama Demokrasi.
Prinsip hidupnya: dari, oleh dan untuk rakyat.
Kedaulatan hukum itu ada pada rakyat, sehingga penguasa wajib
menjalankan keinginan rakyat. Kekuasaan ditentukan dengan pemilu yang
bebas oleh rakyat, ini ditandai dengan kebebasan pers, kebebasan
berserikat (berpartai) dan kebebasan pemilu yang jujur dan adil.
Demokrasi memandang kalau mayoritas rakyat menginginkan de-kriminalisasi
narkoba, maka bisa dibuat Undang-Undang yang lebih ramah terhadap
narkoba. Demikian juga kalau mayoritas rakyat memandang legalisasi
profesi pekerja seks atau legalisasi profesi rentenir sebagai hal yang
lebih bermanfaat, maka akan keluar pula hukum yang memayunginya.
Satu-satunya yang dianggap benar adalah keinginan rakyat, hari ini, di
negeri ini. Karena itu Demokrasi kadang menelurkan keputusan yang
kontradiktif, yaitu secara langsung atau tak langsung bisa menghancurkan
masa depannya sendiri, atau rakyat / lingkungan negeri lain. Tak heran
belakangan Demokrasi melahirkan anak-anak haram: yaitu "kepentingan
nasional" (Nasionalisme) - dan Chauvinisme.
Anak keempat bernama Kapitalisme.
Prinsip hidupnya: biarkan tangan-tangan gaib kekuatan pasar mengatur
dirinya sendiri, bagaimana distribusi barang dan jasa yang paling
optimal untuk kebahagian semua orang. Hasilnya, semua bisa didapatkan
bagi yang punya uang. Anak keempat ini cukup dominan dalam keluarga,
karena dialah penopang utama kakak-kakaknya. Dia royal memberi "uang
jajan" atau "uang lelah" ke aktivis pro Liberalisme, juga rajin pasang
iklan ke media massa pro Pluralisme, dan tentu saja memberi "modal"
untuk membesarkan partai, membiayainya dalam kampanye, melobby para
politisi pesaing dan kaum intelektual, hingga "money politik" untuk
calon pemilihnya dalam pemilu. Semua tentu saja dipandang sebagai
investasi, tidak gratis. Kapitalisme ini akan meminta pengembalian "plus
bunga" dalam bentuk peraturan perundangan yang akan menjamin bahwa
mereka semakin kaya, misalnya sistem ribawi, sistem uang fiat, sistem
pasar saham sekunder, sistem hak konsesi atas sumber daya alam, sistem
monopoli kekayaan intelektual, dan sebagainya.
Kapitalisme
memiliki anak-anak haram: Materialisme dan Hedonisme, yang merasa bahwa
tolok ukur kebahagian di dunia diukur dengan materi, dan hidup harus
dipuas-puaskan dengan kenikmatan dunia..
Anak kelima bernama Imperialisme.
Prinsip hidupnya: Gold, Gospel & Glory. Di manapun, kekayaannya
harus kita kuasai; referensi hidupnya harus referensi kita; dan kita
harus dihormati atau bahkan diagungkan. Karena prinsipnya ini, maka
Imperialisme mengekspor tak cuma produk maupun jasa, tetapi juga
falsafah hidup, hukum yang menjadi rujukan halal/haram, bahkan
nilai-nilai etika dan estetika (film, food, fun, fashion). Pada masa
dulu, imperialisme dilakukan secara militer, tetapi sekarang lebih kuat
karena dibentengi hutang dan aturan dagang, mata uang internasional,
hukum internasional, dsb. Imperialisme memiliki anak haram yaitu
Globalisasi.
Lima anak ini kini telah merantau. Terkadang dua
atau tiga bersaudara bertemu di suatu negeri, dan bahkan melakukan
selingkuh sedarah (incest). Hasilnya tentu berbeda dengan yang hanya di
kandang sendiri ... Apalagi kalau terus ikut tobat dan ngaji nyantri ...
Merasa kenal?
Oleh Prof Dr. Ing Fahmi Amhar
Selasa, 10 Juli 2012
Tukan bakso yang bijaksana
Di suatu senja sepulang kerja, saya masih berkesempatan untuk ngurus tanaman di depan rumah, setelah hampir satu jam saya membersihkan dan menyirami tanaman, terdengar suara tukang bakso dorong lewat.
Sambil menyeka keringat, saya panggil tukang bakso itu dan saya memesan beberapa mangkok bakso, setelah saya tanya anak-anak juga pada mau makan bakso.
Selesai makan bakso, lalu saya membayarnya, ada satu hal yang menggelitik fikiran saya selama ini ketika saya membayarnya, si tukang bakso memisahkan uang yang diterimanya, dimana yang satu disimpan dilaci, yang satu ke dompet dan yang lainnya disimpan di kaleng bekas kue semacam kencleng, atas rasa penasaran lalu saya bertanya :
"Mas kalau boleh tahu, kenapa uang-uang itu Mas pisahkan, barangkali ada maksud dan tujuan ?", kata saya.
Tukang bakso menjawab : "Iya Pak, selama 17 tahun saya menjadi tukang bakso, setiap hari saya selalu memisahkannya, ya tujuannya sederhana saja, saya hanya ingin memisahkan mana yang menjadi hak saya, mana yang menjadi hak orang lain atau tempat ibadah dan mana yang menjadi hak cita-cita penyempurnaan iman ".
Mendengar jawaban seorang tukang bakso itu saya benar-benar terkejut dan saya melanjutkan bertanya.
"Maksudnya Mas .. .?",
Sambil bersandar di tembok pagar rumah saya tukang bakso itu menjawab : "Iya Pak, kan agama dan Allah menganjurkan Kita agar bisa berbagi dengan sesama, dan saya membagi 3, dengan pembagian :
1. Uang yang masuk ke dompet, artinya untuk memenuhi keperluan hidup sehari-hari saya dan keluarga.
2. Uang yang masuk ke laci, artinya untuk infaq/sedekah, atau untuk melaksanakan ibadah Qurban, dan Alhamdulillah selama 17 tahun menjadi tukang bakso, saya selalu ikut qurban seekor kambing, meskipun kambingnya yang ukuran sedang saja.
3. Uang yang masuk ke kencleng, karena saya ingin menyempurnakan agama yang saya pegang yaitu Islam dan Islam mewajibkan kepada umatnya yang mampu untuk melaksanakan ibadah haji dan ibadah haji ini tentu butuh biaya yang besar maka saya berunding dengan istri dan istri menyetujui bahwa disetiap penghasilan harian hasil jualan bakso ini, saya harus menyisihkan
sebagian penghasilan sebagai tabungan haji, dan insya Allah selama 17 tahun menabung, sekitar 2 tahun lagi saya dan istri akan melaksanakan Ibadah haji.
Terus terang sedikitpun saya tidak menyangka akan mendapat jawaban seperti itu dari seorang tukang bakso, hati saya benar-benar sangat tersentak juga tersentuh mendengar jawaban itu. Sungguh sebuah jawaban sederhana yang sangat mulia. Bahkan mungkin kita yang memiliki nasib sedikit lebih baik dari tukang bakso tersebut, belum tentu memiliki Pikiran dan rencana indah dalam hidup seperti itu dan seringkali berlindung di balik kata tidak mampu atau belum ada rezeki.
Sahabat ....
Terus saya melanjutkan pertanyaan :
"Iya memang itu bagus Mas, tapi kan ibadah haji itu hanya diwajibkan bagi yang mampu, termasuk memiliki kemampuan dalam biaya .....". kata saya.
Tukang bakso menjawab : "Itulah sebabnya Pak, saya justru malu kalau bicara soal mampu atau tidak mampu ini, karena definisi mampu itu bukan hak Pak RT atau Pak RW, bukan hak Pak Camat ataupun MUI. Definisi "mampu" adalah sebuah Definisi dimana Kita diberi kebebasan untuk mendefinisikannya sendiri, kalau kita mendefinisikan diri sendiri sebagai orang tidak mampu, maka mungkin selamanya kita akan menjadi manusia tidak mampu, sebaliknya kalau kita mendefinisikan diri sendiri, "mampu", maka insya Allah dengan segala kekuasaan dan kewenangannya, Allah akan memberi kemampuan pada Kita".
Subhanallah, betapa mulianya tukang bakso ini, sama sekali saya tidak menyangka akan mendengar sebuah jawaban elegan dari seorang tukang bakso, yang tentunya patut kita semua contoh.
Sahabat ....
Obrolan singkat saya dengan tukang bakso yang sederhana ini, semoga memberi hikmah terbaik bagi kehidupan kita. Aamiin
PEROLEHAN AGUNG IBADAH SHAUM RAMADHAN
Allah Subhanallahu wa Ta’ala berfirman:
“Wahai Ahmad!... Mengertikah engkau hasil dari shaum (puasa)?..”
“Tidak..” jawab Nabi shallallahu ’alaihi wassalam
Allah Ta’ala menjawab,..
“Hasil dari puasa adalah sedikit berbicara dan sedikit makan,…
hasil dari diam adalah kebijaksanaan;
hasil dari kebijaksanaan adalah pencerahan;
hasil dari pencerahan adalah keyakinan;
Dan ketika seseorang mencapai kedudukan keyakinan yang mulia,
ia senantiasa tidak menjadi cemas,
sebagaimana ia akan memulai hari-harinya,
apakah dengan kemudahan, atau dengan kesulitan,…
tragedi ataukah kesenangan...”
(Hadits Qudsi)